Selasa, 08 Juli 2008

IBU OH IBU


Ibu…
Ini adalah tulisan yang sangat indah.
Bacalah dengan lambat, cernalah setiap kata dan nikmati lah Jangan tergesa. Ini adalah harta karun

Bagi yang beruntung masih mempunyai ibu, ini indah Bagi yang sudah tidak punya, ini lebih indah lagi Bagi para ibu, kamu akan mencintainya


Sang ibu muda, melangkahkan kakinya di jalan kehidupan.
'Apakah jalannya jauh?' tanyanya.
Pemandunya menjawab: 'Ya, dan jalannya berat.
Kamu akan jadi tua sebelum mencapai akhir perjalanan ini...
Tapi akhirnya lebih bagus dari pada awalnya.'



Tetapi ibu muda itu sedang bahagia. Ia tidak percaya bahwa akan ada yang lebih baik Dari pada tahun-tahun ini.
Karena itu dia main dengan anak-anaknya, mengumpulkan bunga-bunga untuk mereka Sepanjang jalan dan memandikan mereka di aliran sungai yang jernih.
Mata hari bersinar atas mereka. Dan ibu muda itu berseru:
'Tak ada yang bisa lebih indah daripada ini.'


Lalu malam tiba bersama badai.
Jalannya gelap, anak-anak gemetar ketakutan dan ketakutan.
Ibu itu memeluk mereka dan menyelimuti mereka dengan mantelnya.
Anak-anak itu berkata: 'Ibu, kami tidak takut, karena ibu ada dekat.
Tak ada yang dapat menyakiti kami.'


Dan fajar menjelang. Ada bukit menjulang di depan mereka. Anak-anak memanjat dan menjadi lelah. Ibunya juga lelah. Tetapi ia terus berkata kepada anak-anaknya:
'Sabar sedikit lagi, kita hampir sampai.' Demikianlah anak-anak itu memanjat terus.
Saat sampai di puncak, mereka berkata: 'Ibu, kami tak mungkin melakukannya tanpa ibu.'

Dan sang ibu, saat ia berbaring malam hari dan menatap bintang-bintang, berkata:
'Hari ini lebih baik dari pada yang lalu. Karena anak-anakku sudah belajar daya tahan Menghadapi beban hidup. Kemarin malam aku memberi mereka keberanian. Hari ini saya Memberi mereka kekuatan.'


Keesokan harinya, ada awan aneh yang menggelapkan bumi.
Awan perang, kebencian dan kejahatan.
Anak-anak itu meraba-raba dan tersandung-sandung dalam gelap.
Ibunya berkata: 'Lihat keatas. Arahkan matamu kepada sinar.'
Anak-anak menengadah dan melihat diatas awan-awan ada kemuliaan abadi Yang menuntun mereka melalui kegelapan.
Dan malam harinya ibu itu berkata: 'Ini hari yang terbaik.
Karena saya sudah memperlihatkan Allah kepada anak-anakku.




Hari berganti minggu, bulan, dan tahun.
Ibu itu menjadi tua, dia kecil dan bungkuk.
Tetapi anak-anaknya tinggi dan kuat dan berjalan dengan gagah berani.
Saat jalannya sulit, mereka membopongnya; karena ia seringan bulu.
Akhirnya mereka sampai ke sebuah bukit. Dan di kejauhan mereka melihat
Sebuah jalan yang bersinar dan pintu gerbang emas terbuka lebar.
Ibu berkata: 'Saya sudah sampai pada akhir perjalananku.
Dan sekarang saya tahu, akhir ini lebih baik dari pada awalnya.
Karena anak-anakku dapat berjalan sendiri dan
anak-anak mereka ada di belakang mereka.'



Dan anak-anaknya menjawab: "Ibu selalu akan berjalan bersama kami...
Meski ibu sudah pergi melewati pintu gerbang itu.'
Mereka berdiri, melihat ibu mereka berjalan sendiri...
dan pintu gerbang itu menutup sesudah ia lewat.
Dan mereka berkata: "Kita tak dapat melihat ibu lagi.
Tetapi dia masih bersama kita.
Ibu seperti ibu kita, lebih dari sekedar kenangan.
Ia senantiasa hadir dan hidup.



Ibumu selalu bersamamu….
Ia adalah bisikan daun saat kau berjalan di jalan
Ia adalah bau pengharum di kaus kakimu yang baru dicuci
Dialah tangan sejuk di keningmu saat engkau sakit.
Ibumu hidup dalam tawa candamu.
Ia terkristal dalam tiap tetes air mata.
Dia lah tempat engkau datang, dia rumah pertamamu.
Dia adalah peta yang kau ikuti pada tiap langkahmu/
Ia adalah cinta pertama dan patah hati pertamamu.
Tak ada di dunia yang dapat memisahkan kalian.

Tidak waktu, ruang, bahkan tidak juga kematian!

Teruskan pada semua ibu dan anak-anak yang kau kenal.
Semoga kita tidak pernah mengandaikan begitu saja ibu kita…

Teruskan juga pada para laki-laki…. Karena mereka juga punya ibu.

TULANG RUSUK


Mia: Sudah satu minggu kita pacaran, aku mau tanya siapa sich yang paling kamu cintai di dunia ini?
Joe: Kamu dong!
Mia: Menurut kamu, aku ini siapa?
Joe: Kamu tulang rusukku!
Mia: Kok bisa tulang rusukmu?
Joe: Aku ceritakan sejarahnya ya... Dulu karena Tuhan melihat bahwa Adam kesepian. Saat Adam tidur, Tuhan mengambil rusuk dari Adam dan menciptakan Hawa. Semua Pria mencari tulang rusuknya yang hilang dan saat menemukan wanita untuknya, ia tidak lagi merasakan sakit di hati. Begitu juga dengan tulang rusuk yang ditemukan, dia merasa lengkap, dan tidak kehilangan suatu apapun, maka diapun tidak merasakan sakit di hatinya. Seperti saat ini, hatiku terasa nyaman dan lengkap dengan adanya kamu di sisiku.
Pasangan itu mengalami masa yang indah dan manis untuk beberapa saat. Namun setelah mereka beranjak ke dunia kerja, kedua pasangan muda ini mulai tenggelam dalam kesibukan kerja masing-masing dan kepenatan hidup yang ada. Hidup mereka menjadi membosankan, jarang bertemu, dan mulai terjadi pertengkaran- pertengkaran besar dalam kehidupan mereka.
Kenyataan hidup yang kejam membuat mereka mulai menyisihkan impian dan cinta satu sama lain. Mereka mulai bertengkar dan pertengkaran itu mulai menjadi semakin menyakitkan. Pada suatu hari pada akhir sebuah pertengkaran Mia keluar dari mobil Joe sembari membanting pintu Mobil. Saat tiba di seberang jalan, dia berteriak:
"Kamu nggak cinta lagi sama aku! Kita putus saja!".
Joe sangat membenci ketidak-dewasaan Mia dan secara spontan balik berteriak:
"Kamu terlalu kekanakan, aku benci kekanakanmu itu, cobalah berpikir lebih dewasa ketika menghadapi masalah!"
Mia yang terpancing oleh emosinya-pun spontan berteriak marah:
"Aku menyesal menerimamu sebagai pacarku, kamu ternyata salah, ternyata aku bukan tulang rusukmu !!!"
Tiba-tiba Joe terdiam dan berdiri terpaku di samping mobilnya untuk beberapa saat. Joe menyesal akan apa yang sudah dia ucapkan, dia menyesal kenapa menjelekkan kekanakan Mia. Namun karena emosinya masih meluap, dia segera masuk kemobilnya, menancap gas, dan meninggalkan Mia yang sedang berlari masuk ke rumahnya.
Sesampai di kamarnya, Mia menyesal berkata bahwa dia bukanlah tulang rusuk Joe, dia mengingat semua kebaikan Joe, semua pengorbanannya, dan segala ketulusannya, dan Mia menangis. Tetapi seperti ludah yang telah terludahkan, kata-katanya tidak mungkin untuk diambil kembali. Karena emosi masih terlalu menguasainya, dengan berlinang air mata, Mia bertekad untuk berpisah. Dia mengambil handphone-nya, dan menuliskan sebuah SMS untuk Joe:
"Kalau aku bukan tulang rusukmu, biarkan aku pergi. Biarkan Kita berpisah dan mencari pasangan sejati Kita masing-masing! "
Tahun demi tahun berganti dan berlalu begitu cepat, namun Mia masih belum bisa melupakan Joe. Mia berusaha mencari tahu tentang kehidupan Joe. Dari temannya, dia tahu bahwa Joe pernah ke luar negeri beberapa tahun, tetapi sudah kembali. Dia pernah berpacaran dengan seorang asing, namun kini sudah putus.
Mia agak kecewa tahu bahwa Joe tidak menunggunya kembali. Di tengah malam yang sunyi, dia menyeduh dan meminum the hijau tawar dari cangkirnya, dan merasakan ada segores luka yang teramat sakit di hatinya. Tetapi dia tidak sanggup mengakui bahwa dia merindukan Joe.
Suatu hari, mereka kembali bertemu di airport, tempat di mana banyak terjadi pertemuan dan perpisahan. Mereka hanya dipisahkan oleh sebuah kaca pembatas...
Joe: Hai, apa kabar?
Mia: (Gugup dan karenanya, Mia hanya menjawab sepatah dua patah kata) Baik...
Joe: (Diam sejenak mencari bahan obrolan, lalu berkata) Apakah kamu sudah menemukan rusukmu yang hilang?
Mia: Belum...
Joe: Maaf, aku terburu-buru, aku harus terbang ke New York dengan penerbangan berikut. Aku akan kembali dua minggu lagi. Berapa nomor teleponmu sekarang? Aku akan menelponmu...
Mia: Kamu tahu nomor teleponku, tidak Ada yang berubah...
Joe: Ok, saya akan call kamu nanti.
Joe tersenyum kecil, lalu berlalu sambil melambaikan tangan Dan berkata: " Bye ...."
Satu minggu kemudian, ketika Mia sedang menonton televisi, Mia menemukan bahwa ternyata Joe adalah satu korban Menara Kembar WTC. Malam itu, sekali lagi, Mia meminum the hijau dari cangkirnya, kali ini the itu tidak tawar, namun asin karena air mata Mia berjatuhan tertetes di cangkir itu. Ya, Mia menangis, dia kembali merasakan sakit di hatinya, kali ini jauh lebih sakit. Akhirnya dia sadar bahwa sakit itu adalah karena Joe, asal dari semua tulang rusuk yang dia miliki, pasangan dari semua tulang rusuknya sendiri, yang telah dengan bodohnya dia patahkan, dan kali ini kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya sudah sirna.

Moral of the story.
"Kita melampiaskan 99% kemarahan justru kepada orang yang paling kita cintai. Dan akibatnya adalah fatal. Seringkali penyesalan itu datang terlalu lambat, akibatnya setelah kita menyadari kesalahan kita, semua sudah terlambat....
Karena itu jagalah dan sayangilah orang yang kau cintai dengan segenap hatimu...
Sebelum kau mengucapkan sesuatu berpikirlah dulu, apakah kata-kata yang kau ucapkan akan menyakiti orang yang kau cintai.
Kalau ya sebaiknya jangan kau ucapkan. Karena akan semakin besar resiko yang akan kau tanggung ketika kehilangan orang yang kau cintai.
Jadi berpikirlah dahulu, apakah kata-kata yang akan kau ucapkan sebanding dengan akibat yang akan kau terima?
God bless you...

Jumat, 04 Juli 2008

JEMBATAN MAAF



Alkisah ada dua orang kakak-beradik yang hidup di sebuah desa. Entah karena apa mereka jatuh ke dalam suatu pertengkaran serius. Dan ini adalah pertama kalinya mereka bertengkar sedemikian hebat. Padahal selama 40 tahun mereka hidup rukun berdampingan, saling meminjamkan peralatan pertanian dan bahu-membahu dalam usaha perdagangan tanpa mengalami hambatan. Namun kerja-sama yang akrab itu kini retak. Dimulai dari kesalah-pahaman yang sepele saja. Kemudian berubah menjadi perbedaan pendapat yang besar. Dan akhirnya meledak dalam bentuk caci-maki. Beberapa minggu sudah berlalu, mereka saling berdiam diri tak bertegur-sapa.
Suatu pagi, seseorang mengetuk rumah sang kakak. Di depan pintu berdiri seorang pria membawa kotak perkakas tukang kayu. “Maaf Tuan, sebenarnya saya sedang mencari pekerjaan”, kata pria itu dengan ramah. “Barangkali Tuan berkenan memberikan beberapa pekerjaan untuk saya selesaikan.”
“Oh ya!” jawab sang kakak. “Saya punya sebuah pekerjaan untukmu. Kau lihat ladang pertanian di seberang sungai sana. Itu adalah rumah tetanggaku,…… ah sebetulnya ia adalah adikku. Minggu lalu ia mengeruk bendungan dengan buldozer lalu mengalirkan airnya ke tengah padang rumput itu sehingga menjadi sungai yang memisahkan tanah kami. Hmm, barangkali ia melakukan itu untuk mengejekku, tapi aku akan membalasnya lebih setimpal. Di situ ada gundukan kayu. Aku ingin kau membuat pagar setinggi 10 meter untukku sehingga aku tidak perlu lagi melihat rumahnya. Pokoknya, aku ingin melupakannya.”
Kata tukang kayu, “Saya mengerti. Belikan saya paku dan peralatan. Akan saya kerjakan sesuatu yang bisa membuat Tuan merasa senang.”
Kemudian sang kakak pergi ke kota untuk berbelanja berbagai kebutuhan dan menyiapkannya untuk si tukang kayu. Setelah itu ia meninggalkan tukang kayu bekerja sendirian. Sepanjang hari tukang kayu bekerja keras, mengukur, menggergaji dan memaku.
Di sore hari, ketika sang kakak petani itu kembali, tukang kayu itu baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Betapa terbelalaknya ia begitu melihat hasil pekerjaan tukang kayu itu. Sama sekali tidak ada pagar kayu sebagaimana yang dimintanya. Namun, yang ada adalah jembatan melintasi sungai yang menghubungkan ladang pertaniannya dengan ladang pertanian adiknya. Jembatan itu begitu indah dengan undak-undakan yang tertata rapi. Dari seberang sana, terlihat sang adik bergegas berjalan menaiki jembatan itu dengan kedua tangannya terbuka lebar.
“Kakakku, kau sungguh baik hati mau membuatkan jembatan ini. Padahal sikap dan ucapanku telah menyakiti hatimu. Maafkan aku”, kata sang adik pada kakaknya.
Dua bersaudara itupun bertemu di tengah-tengah jembatan, saling berjabat tangan dan berpelukan. Melihat itu, tukang kayu pun membenahi perkakasnya dan bersiap-siap untuk pergi.
“Hai, jangan pergi dulu. Tinggallah beberapa hari lagi. Kami mempunyai banyak pekerjaan untukmu,” pinta sang kakak.
“Sesungguhnya saya ingin sekali tinggal di sini”, kata tukang kayu, “tapi masih banyak jembatan lain yang harus saya selesaikan.”
Note :
Kita harus bisa melihat sesuatu dengan bijak, dan bila terjadi perselisihan jangan pernah ragu untuk mengucapkan maaf terlebih dahulu. Karena dengan itu maka persahabatan akan semakin erat kembali.

GEMA KEHIDUPAN



Seorang ayah mengajak anaknya jalan-jalan ke gunung. Karena asyik menikmati pemandangan, anaknya tersandung batu dan jatuh, dan kakinya luka.
“Aduuuuuhh!” serunya.
Tiba-tiba ia mendengar kembali seruannya dari suatu tempat di gunung, “Aduuuuuhh!”. Karena merasa aneh dan ingin tahu, si anak lalu berseru lantang,
“Siapa kamu?”.
Kembali ia mendengar suara yang mengulang pertanyaannya, “Siapa kamu?”. Si anak jengkel karena suara itu kembali mengulangi pertanyaannya. Dengan marah ia berkata,
“Kamu pengecut!”
Suara itu kemblai mengulang seruannya, “Kamu pengecut!”
Si anak heran, lalu bertanya kepada ayahnya,
“Mengapa bisa begitu?”
Ayahnya tersenyum dan berkata,
“Coba perhatikan baik-baik, nak!”
Sesudah berkata begitu, si ayah berseru kepada gunung,
“Saya kagum padamu!”
Dan suara itu kembali terdengar, “Saya kagum padamu!” SI Ayah berseru sekali lagi“Kamu hebat!” Suara itu kembali terdengar, “Kamu hebat!”.
Si anak heran. Ayahnya lalu menjelaskan, suara yang berulang itu disebut gema dan hidup juga seperti itu. hidup memberikan kembali segala sesuatu yang kita katakan atau lakukan. Hidup kita adalah pantulan dari tindakan-tindakan kita. Jika kita ingin mendapatkan banyak kebaikan dan kasih sayang dalam hati kita. Jika kita tekun meningkatkan kemampuan, kita akan menjadi orang yang tangguh. Hal ini berlaku sesuatu, dalam segala aspek.
Note :
Hidup memberikan kembali segala sesuatu yang kita berikan. Hidup bukan suatu kebetulan, tapi cerminan dari sikap dan perilaku kita.

EMAS DAN PERMATA



Beberapa waktu yang lalu, di Mesir hidup seorang sufi tersohor bernama Zun-Nun.
Seorang pemuda mendatanginya dan bertanya, “Guru, saya tak mengerti mengapa orang seperti anda mesti berpakaian apa adanya, amat sangat sederhana. Bukankah di masa seperti ini berpakaian sebaik-baiknya amat perlu, bukan hanya untuk penampilan namun juga untuk banyak tujuan lain.”
Sang sufi hanya tersenyum; ia lalu melepaskan cincin dari salah satu jarinya, lalu berkata, “Sobat muda, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi lebih dahulu lakukan satu hal untukku. Ambillah cincin ini dan bawalah ke pasar di seberang sana. Bisakah kamu menjualnya seharga satu keping emas?”
Melihat cincin Zun-Nun yang kotor, pemuda tadi merasa ragu, “Satu keping emas? Saya tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu.”
“Cobalah dulu, sobat muda. Siapa tahu kamu berhasil.”
Pemuda itu pun bergegas ke pasar. Ia menawarkan cincin itu kepada pedagang kain, pedagang sayur, penjual daging dan ikan, serta kepada yang lainnya. Ternyata, tak seorang pun berani membeli seharga satu keping emas. Mereka menawarnya hanya satu keping perak. Tentu saja, pemuda itu tak berani menjualnya dengan harga satu keping perak. Ia kembali ke padepokan Zun-Nun dan melapor, “Guru, tak seorang pun berani menawar lebih dari satu keping perak.”
Zun-Nun, sambil tetap tersenyum arif, berkata, “Sekarang pergilah kamu ke toko emas di belakang jalan ini. Coba perlihatkan kepada pemilik toko atau tukang emas di sana. Jangan buka harga, dengarkan saja bagaimana ia memberikan penilaian.”
Pemuda itu pun pergi ke toko emas yang dimaksud. Ia kembali kepada Zun-Nun dengan raut wajah yang lain. Ia kemudian melapor, “Guru, ternyata para pedagang di pasar tidak tahu nilai sesungguhnya dari cincin ini. Pedagang emas menawarnya dengan harga seribu keping emas. Rupanya nilai cincin ini seribu kali lebih tinggi daripada yang ditawar oleh para pedagang di pasar.”
Zun-Nun tersenyum simpul sambil berujar lirih, “Itulah jawaban atas pertanyaanmu tadi sobat muda. Seseorang tak bisa dinilai dari pakaiannya. Hanya “para pedagang sayur, ikan dan daging di pasar” yang menilai demikian. Namun tidak bagi ‘pedagang emas’. Emas dan permata yang ada dalam diri seseorang, hanya bisa dilihat dan dinilai jika kita mampu melihat ke kedalaman jiwa. Diperlukan kearifan untuk menjenguknya. Dan itu butuh proses wahai sobat mudaku. Kita tak bisa menilainya hanya dengan tutur kata dan sikap yang kita dengar dan lihat sekilas. Seringkali yang disangka emas ternyata loyang dan yang kita lihat sebagai loyang ternyata emas.”
Note :
Jalani hidup dengan bijaksana dan selalu melihat sesuatu positif.