Sore saya melakukan presentasi dalam sebuah konferensi di Washington DC. Dan seperti sebuah takdir, saya bertemu dengan Bucky Fuller sahabat saya, memimpin sebuah presentasi di ruang konferensi yang lain di hotel yang sama.
Setelah presentasi selesai, saya menuju ke ballroom untuk mendengarkan ceramah Bucky. Saya dari dulu kagum dengan Bucky yang bertubuh kecil dalam usia delapan puluhan – jauh di atas saya, tetapi pikirannya masih jernih, sangat bijaksana dan penuh semangat. Saat konferensi usai, kami berjalan bersama menuju ke parkir di lantai dasar tempat mobil limousine bandara menunggunya.
"Saya harus ke kota New York malam ini untuk mengadakan presentasi yang lain," katanya sambil menatap saya dengan gelisah, tidak seperti biasanya.
"Kamu tahu Annie sedang sakit dan saya sangat kuatir."
Kami berpelukan.
Bucky Fuller pernah menceritakan sebuah rahasia pada saya bahwa dia telah berjanji pada istrinya Annie untuk meninggal lebih dahulu, sehingga dia mempersiapkan sebuah penyambutan untuk istrinya di surga - sebagai ganti Annie yang sudah setia melayaninya selama hidup di dunia. Saya menganggap pernyataan itu sebagai sebuah harapan bukan sebuah komitmen. Itu menunjukkan betapa saya meremehkannya.
Singkatnya, setelah Buck presentasi di New York, dia segera menuju rumah sakit di Los Angeles karena isterinya jatuh koma. Dokter merasa bahwa masih ada kesempatan karena Annie cepat mendapat penanganan yang tepat di rumah sakit.
Buck segera mencari penerbangan pertama yang bisa dia temukan dari kota New York. Saat tiba di Los Angeles, dia segera menuju ke kamar Annie. Buck duduk di samping tempat tidurnya, dan menutup matanya.
Dan Buck meninggal dengan tenang.
Kekuatan untuk memilih kehidupan adalah sesuatu yang diperlihatkan oleh Buck. Bahkan dia memiliki kekuatan untuk meninggal pada saatnya, dengan tenang, dengan tangan terbuka kepada alam semesta yang dia layani. Sebuah kesederhanaan untuk berani melangkah ke depan
Tak lama kemudian, Annie menyusulnya meninggal dengan tenang. Buck telah megang janjinya. Dia sedang menunggu Annie di surga.
Hidup Adalah Nyanyian.. Nyanyikanlah/ Hidup Adalah Tantangan.. Hadapilah/ Hidup Adalah Pengorbanan.. Berikanlah/ Hidup Adalah Cinta.. Nikmatilah/ Dan Hidup Adalah Bagaimana Kita Menjalani Hidup Itu Sendiri.. Bikin Hidup Lebih Hidup
Minggu, 24 Januari 2010
JADILAH PELITA
Pada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya. Sangsahabat membekalinya dengan sebuah lentera pelita. Orang buta itu terbahak
berkata: "Buat apa saya bawa pelita? Kan sama saja buat saya! Saya bisa pulang
kok."
Dengan lembut sahabatnya menjawab, "Ini agar orang lain bisa melihat kamu, biar
mereka tidak menabrakmu." Akhirnya orang buta itu setuju untuk membawa pelita
tersebut. Tak berapa lama, dalam perjalanan, seorang pejalan menabrak si buta.
Dalam kagetnya, ia mengomel, "Hei, kamu kan punya mata! Beri jalan buat orang
buta dong!" Tanpa berbalas sapa, mereka pun saling berlalu.
Lebih lanjut, seorang pejalan lainnya menabrak si buta. Kali ini si buta
bertambah marah, "Apa kamu buta? Tidak bisa lihat ya? Aku bawa pelita ini supaya
kamu bisa lihat!" Pejalan itu menukas, "Kamu yang buta! Apa kamu tidak lihat,
pelitamu sudah padam!" Si buta tertegun.. Menyadari situasi itu, penabraknya
meminta maaf, "Oh, maaf, sayalah yang 'buta', saya tidak melihat bahwa Anda
adalah orang buta." Si buta tersipu menjawab, "Tidak apa-apa, maafkan saya juga
atas kata-kata kasar saya." Dengan tulus, si penabrak membantu menyalakan
kembali pelita yang dibawa si buta. Mereka pun melanjutkan perjalanan
masing-masing.
Dalam perjalanan selanjutnya, ada lagi pejalan yang menabrak orang buta kita.
Kali ini, si buta lebih berhati-hati, dia bertanya dengan santun, "Maaf, apakah
pelita saya padam?" Penabraknya menjawab, "Lho, saya justru mau menanyakan hal
yang sama." Senyap sejenak. secara berbarengan mereka bertanya, "Apakah Anda
orang buta?" Secara serempak pun mereka menjawab, "Iya.," sembari meledak dalam
tawa. Mereka pun berupaya saling membantu menemukan kembali pelita mereka yang
berjatuhan sehabis bertabrakan.
Pada waktu itu juga, seseorang lewat. Dalam keremangan malam, nyaris saja ia
menubruk kedua orang yang sedang mencari-cari pelita tersebut. Ia pun berlalu,
tanpa mengetahui bahwa mereka adalah orang buta. Timbul pikiran dalam benak
orang ini, "Rasanya saya perlu membawa pelita juga, jadi saya bisa melihat jalan
dengan lebih baik, orang lain juga bisa ikut melihat jalan mereka."
Pelita melambangkan terang kebijaksanaan. Membawa pelita berarti menjalankan
kebijaksanaan dalam hidup. Pelita, sama halnya dengan kebijaksanaan, melindungi
kita dan pihak lain dari berbagai aral rintangan (tabrakan!).
Si buta pertama mewakili mereka yang terselubungi kegelapan batin, keangkuhan,
kebebalan, ego, dan kemarahan. Selalu menunjuk ke arah orang lain, tidak sadar
bahwa lebih banyak jarinya yang menunjuk ke arah dirinya sendiri. Dalam
perjalanan "pulang", ia belajar menjadi bijak melalui peristiwa demi peristiwa
yang dialaminya. Ia menjadi lebih rendah hati karena menyadari kebutaannya dan
dengan adanya belas kasih dari pihak lain. Ia juga belajar menjadi pemaaf.
Penabrak pertama mewakili orang-orang pada umumnya, yang kurang kesadaran, yang
kurang peduli. Kadang, mereka memilih untuk "membuta" walaupun mereka bisa
melihat.
Penabrak kedua mewakili mereka yang seolah bertentangan dengan kita, yang
sebetulnya menunjukkan kekeliruan kita, sengaja atau tidak sengaja. Mereka bisa
menjadi guru-guru terbaik kita. Tak seorang pun yang mau jadi buta, sudah
selayaknya kita saling memaklumi dan saling membantu.
Orang buta kedua mewakili mereka yang sama-sama gelap batin dengan kita. Betapa
sulitnya menyalakan pelita kalau kita bahkan tidak bisa melihat pelitanya. Orang
buta sulit menuntun orang buta lainnya. Itulah pentingnya untuk terus belajar
agar kita menjadi makin melek, semakin bijaksana.
Orang terakhir yang lewat mewakili mereka yang cukup sadar akan pentingnya
memiliki pelita kebijaksanaan.
Sudahkah kita sulut pelita dalam diri kita masing-masing? Jika sudah, apakah
nyalanya masih terang, atau bahkan nyaris padam? JADILAH PELITA, bagi diri kita
sendiri dan sekitar kita.
Sebuah pepatah berusia 25 abad mengatakan: Sejuta pelita dapat dinyalakan dari
sebuah pelita, dan nyala pelita pertama tidak akan meredup. Pelita kebijaksanaan
pun, tak kan pernah habis terbagi.
Bila mata tanpa penghalang, hasilnya adalah penglihatan. Jika telinga tanpa
penghalang, hasilnya adalah pendengaran. Hidung yang tanpa penghalang membuahkan
penciuman. Fikiran yang tanpa penghalang hasilnya adalah kebijaksanaan.
Senin, 02 November 2009
KU MENCARIMU
ku mencari yang baik
ku mencari yang setia
ku mencari yang terindah
tapi KAU yang miliki semua itu
ku melihat yang baik
ku melihat yang setia
ku melihat yang terindah
tapi KAU yang miliki semua itu
ku memilih yang baik
ku memilih yang setia
ku memilih yang terindah
tapi KAU yang miliki semua itu..
KAU yang terbaik dalam hidupku
walau KAU tak selalu ada untukku
KAU yang paling setia di hatiku
walau KAU tak sempurna kurasakan
KAU yang terindah buatku
walau KAU selalu membuatku serba salah
ku mencarimu, yang terbaik
ku melihatmu, yang setia
ku memilihmu, yang terindah
Senin, 12 Oktober 2009
KELELAHAN

Anda lelah, tetapi tugas masih menumpuk? Kini tersedia banyak produk minuman yang dipercaya bisa memberi tenaga ekstra. Kafein di dalamnya memacu pikiran menjadi lebih aktif dan bersemangat. Namun, obat kuat itu sebenarnya tidak mengusir kelelahan. Ia hanya menundanya! Tubuh Anda tidak bisa dipaksa bekerja di luar batas. Kelelahan adalah tanda bahwa tubuh sudah mencapai beban puncak. Yang Anda perlukan hanyalah istirahat.
Ketika Yitro mengunjungi Musa, dilihatnya sang menantu sangat kelelahan. Sepanjang hari Musa mendengar dan menyelesaikan perkara seluruh umat sendirian. Satu per satu. Bayangkan: satu orang melayani ratusan ribu, bahkan jutaan orang! Musa kekurangan waktu istirahat. Dengan memaksa diri bekerja saat tubuh lelah, produktivitasnya pasti menurun. Umat pun tidak bisa terlayani dengan baik. Maka, Yitro mengusulkan agar Musa membentuk tim kerja. Dengan belajar percaya kepada orang lain dan membagi-bagi tugas, Musa tak perlu sendirian bekerja sampai di luar batas. Yitro yakin, Tuhan tak pernah memberi tugas kepada seseorang di luar kesanggupannya.
Orang yang bekerja mati-matian tanpa kenal istirahat sering dianggap orang yang tekun dan penuh dedikasi. Ini keliru. Menolak untuk beristirahat itu tidak berhikmat. Tidak menghargai bagaimana Allah merancang tubuh kita. Betapa sering kualitas kerja malah menjadi melorot atau emosi menjadi labil saat kita kelelahan. Lalu, kita jadi cepat marah! Jika beban kerja Anda berlebihan, kurangilah atau minta bantuan orang lain mengerjakannya. Jangan memaksakan diri!
BEKERJA DI LUAR BATAS KEMAMPUAN
JELAS BUKANLAH KEHENDAK TUHAN
Ketika Yitro mengunjungi Musa, dilihatnya sang menantu sangat kelelahan. Sepanjang hari Musa mendengar dan menyelesaikan perkara seluruh umat sendirian. Satu per satu. Bayangkan: satu orang melayani ratusan ribu, bahkan jutaan orang! Musa kekurangan waktu istirahat. Dengan memaksa diri bekerja saat tubuh lelah, produktivitasnya pasti menurun. Umat pun tidak bisa terlayani dengan baik. Maka, Yitro mengusulkan agar Musa membentuk tim kerja. Dengan belajar percaya kepada orang lain dan membagi-bagi tugas, Musa tak perlu sendirian bekerja sampai di luar batas. Yitro yakin, Tuhan tak pernah memberi tugas kepada seseorang di luar kesanggupannya.
Orang yang bekerja mati-matian tanpa kenal istirahat sering dianggap orang yang tekun dan penuh dedikasi. Ini keliru. Menolak untuk beristirahat itu tidak berhikmat. Tidak menghargai bagaimana Allah merancang tubuh kita. Betapa sering kualitas kerja malah menjadi melorot atau emosi menjadi labil saat kita kelelahan. Lalu, kita jadi cepat marah! Jika beban kerja Anda berlebihan, kurangilah atau minta bantuan orang lain mengerjakannya. Jangan memaksakan diri!
BEKERJA DI LUAR BATAS KEMAMPUAN
JELAS BUKANLAH KEHENDAK TUHAN
BENARKAH SURGA DI TELAPAK KAKI IBU

Pepatah adanya surga di kaki seorang ibu, mengingatkan kita bahwa betapa pentingnya arti seorang ibu di sini. Seorang ibu adalah tempat berlindungnya seorang anak saat mengalami kesusahan atau permasalahan hidup. Seorang ibu juga yang berperan memberikan kenyamanan bagi seisi rumahnya, termasuk suaminya, yang bisa memberikan sebuah surga di dalam kehidupan nyata ini, dalam lingkup keluarganya. Ibu yang mengetahui dengan jelas apa arti seorang ibu dan apa tugasnya sebagai seorang ibu, niscaya benar-benar bisa memberikan arti sebuah surga didalam kaluarganya. Sebuah keluarga yang penuh kedamain dan kebahagiaan.
Bukan sebuah keluarga yang amburadul sampai-sampai anak-anak dan suaminya tidak ada yang betah tinggal di rumah. Serang ibu yang penuh belas kasih, perhatian, lemah lembut dan penuh pengertian serta tidak membedakan anak satu dengan lainnya, niscaya akan menimbulkan suasana yang damai dan tentram. Tidak hanya itu, seorang ibu yang mampu bersikap demikian niscaya akan menimbulkan efek yang baik untuk seluruh isi keluarganya. Anak dan suaminya niscaya akan mencontoh perilkunya serta berlaku hormat kepadanya. Sebuah aura positif akan membawa kemurnian di lingkungannya. Seorang ibu pula yang dalam kehidupan sehari-hari mendidik anak sejak dia lahir hingga dewasa agar mampu memahami nilai-nilai kebajikan dalam kehidupan ini. Jadi bagaimana seorang ibu bisa mengajarkan kebajikan, jika ibu itu sendiri tidak tahu makna kebajikan yang sebenarnya ?
Tugas seorang ibu mungkin terasa sangat berat, tapi dibalik semua itu, adalah pahala yang melimpah baginya jika mampu membawa kebaikan buat semua orang. Jika setiap ibu mampu berbuat begini bagi keluarganya, maka seluruh lapisan masyarakat pun akan mengalami perubahan kearah yang lebih baik.
Terkadang sebagai wanita banyak yang memprotes pepatah ini karena memberi kesan seolah-olah yang bertanggung jawab atas kebahagiaan keluarganya adalah seorang ibu, bagaimana kewajiban laki-laki sebagai suami ? Sebagai manusia yang punya kebajikan dan kebijakan tidak akan pernah mau berlomba dalam keburukan. Jika laki-laki sebagai suaminya bertingkah buruk, maka sebagai istri tidak perlu berlomba untuk bersikap buruk pula, atau bahkan lebih buruk dari dia. Karena bagaimanapun dosa adalah dipikul oleh si pembuat dosa itu sendiri, sebagai istri hanya bisa mengingatkan, dengan tulus dan belas kasih, niscaya akan berbuah kebajikan. Ada juga seorang ibu yang salah menyalahkan artikan pepatah ini, dikiranya sebagai ibu adalah yang menentukan seorang anaknya bisa masuk surga atau tidak kelak setelah kematiannya. Dengan demikian setiap pandangan dan sikap perilaku seorang ibu tidak ada yang boleh menentang atau mengomentarinya. Kalau menentang dianggap sebagai anak yang durhaka dan tidak akan bisa masuk surga.
Terkadang sebagai wanita banyak yang memprotes pepatah ini karena memberi kesan seolah-olah yang bertanggung jawab atas kebahagiaan keluarganya adalah seorang ibu, bagaimana kewajiban laki-laki sebagai suami ? Sebagai manusia yang punya kebajikan dan kebijakan tidak akan pernah mau berlomba dalam keburukan. Jika laki-laki sebagai suaminya bertingkah buruk, maka sebagai istri tidak perlu berlomba untuk bersikap buruk pula, atau bahkan lebih buruk dari dia. Karena bagaimanapun dosa adalah dipikul oleh si pembuat dosa itu sendiri, sebagai istri hanya bisa mengingatkan, dengan tulus dan belas kasih, niscaya akan berbuah kebajikan. Ada juga seorang ibu yang salah menyalahkan artikan pepatah ini, dikiranya sebagai ibu adalah yang menentukan seorang anaknya bisa masuk surga atau tidak kelak setelah kematiannya. Dengan demikian setiap pandangan dan sikap perilaku seorang ibu tidak ada yang boleh menentang atau mengomentarinya. Kalau menentang dianggap sebagai anak yang durhaka dan tidak akan bisa masuk surga.
Sementara seorang ibu itu sendiri tidak pernah menyadari kalau perbuatan dan sikapnya telah melukai suami dan anaknya sendiri, tanpa sadar setiap hari mengomel dari A-Z, setiap hari berkata kasar hanya karena ingin menuruti keinginanya sendiri.. Jika memang ada surga di telapak kaki ibu, tentunya adalah seorang ibu yang bagaimana yang ada surga di telapaknya ?, sehingga keluarganya seakan telah menemukan sebuah surga di dunia ini.
Dibicarakan lebih dalam, untuk bisa mencapai surga adalah dengan bersikap dan berperilaku sesuai dengan kriteria hukum Tuhan. Dalam lingkungan yang rumit, dalam permasalahan dan penderitaan yang berbelit, jika seseorang mampu melewati dengan baik dan ikhlas, niscaya surga tidak jauh dari kita. Seorang ibu hanyalah sebagai perantara atau jalan kita menyebarang agar sampai ke surga. Seandainya ibu kita, bapak kita, saudara kita atau siapapun yang telah memberikan penderitaan baik lahir maupun batin, semua itu adalah ujian yang dicipta oleh Tuhan buat kita, untuk dilihat apakah kita mampu melewati ujian tersebut dengan lapang dada dan tanpa mendendam. Jika kita mampu melewatinya niscaya surga ada di depan kita. Tuhan tidak membedakan umatnya, entah dia kaya atau miskin, seorang ibu atau seorang ayah, semua diperlakukan hal yang sama dalam upayanya menuju ke surga. Jika dia seorang ibu maka mungkin ujiannya adalah melalui suami dan anaknya, dan jika dia seorang bapak maka ujiannya mungkin melalui istri dan anaknya. Semua manusia diberi ujian untuk menyaring siapa yang layak menjadi penghuni di surga-Nya.
Dibicarakan lebih dalam, untuk bisa mencapai surga adalah dengan bersikap dan berperilaku sesuai dengan kriteria hukum Tuhan. Dalam lingkungan yang rumit, dalam permasalahan dan penderitaan yang berbelit, jika seseorang mampu melewati dengan baik dan ikhlas, niscaya surga tidak jauh dari kita. Seorang ibu hanyalah sebagai perantara atau jalan kita menyebarang agar sampai ke surga. Seandainya ibu kita, bapak kita, saudara kita atau siapapun yang telah memberikan penderitaan baik lahir maupun batin, semua itu adalah ujian yang dicipta oleh Tuhan buat kita, untuk dilihat apakah kita mampu melewati ujian tersebut dengan lapang dada dan tanpa mendendam. Jika kita mampu melewatinya niscaya surga ada di depan kita. Tuhan tidak membedakan umatnya, entah dia kaya atau miskin, seorang ibu atau seorang ayah, semua diperlakukan hal yang sama dalam upayanya menuju ke surga. Jika dia seorang ibu maka mungkin ujiannya adalah melalui suami dan anaknya, dan jika dia seorang bapak maka ujiannya mungkin melalui istri dan anaknya. Semua manusia diberi ujian untuk menyaring siapa yang layak menjadi penghuni di surga-Nya.
Langganan:
Postingan (Atom)